Tradisi Menyambut Ramadhan Ala Keraton Cirebon

You are currently viewing Tradisi Menyambut Ramadhan Ala Keraton Cirebon

Tradisi Menyambut Ramadhan setiap daerah di seluruh dunia memiliki tradisi khas. Dari kota-kota besar hingga desa-desa terpencil, tradisi-tradisi ini mencerminkan keberagaman budaya dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Misalnya, di negara-negara Arab, tradisi penyelenggaraan majelis ilmu dan pemberian makanan kepada orang miskin menjadi bagian tak terpisahkan dalam menyambut Ramadan. Di Turki, adanya festival khusus yang disebut “Mahya” di mana lampu-lampu yang disusun membentuk kata-kata atau kalimat-kalimat dengan pesan moral yang berbeda-beda. Sementara di Indonesia, masyarakat sering melaksanakan berbagai kegiatan seperti tarawih keliling, berbagi makanan kepada yang membutuhkan, serta menghiasi rumah dan masjid dengan hiasan khas Ramadan. Dengan beragam tradisi ini, setiap daerah menunjukkan keunikan budaya dan kekayaan spiritual dalam menyambut bulan Ramadan.

Di Cirebon khususnya di Keraton Kesepuhan, terdapat tradisi unik yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Salah satunya adalah tradisi “Dlugdag” yang secara rutin dilakukan di lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon setiap tahunnya. Tradisi ini telah menjadi bagian penting dalam budaya dan adat istiadat keraton. Hingga saat ini, tradisi Dlugdag yang diselenggarakan sebagai upaya untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan masih dijalankan secara rutin oleh keluarga keraton, menunjukkan kelestarian dan keberlanjutan warisan budaya yang berharga. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di keraton, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, spiritualitas, dan keagungan tradisi dalam menyambut bulan Ramadan.

Apa itu Tradisi Menyambut Ramadhan Dlugdag?

tradisi menyambut ramadhan
Tradisi Dlugdag Source By Radar Cirebon

Tradisi Dlugdag, yang merupakan penanda datangnya awal bulan Ramadan, menjadi salah satu momen yang sangat dihormati di lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon. Dlugdag, yang secara harfiah berarti menabuh bedug, dilakukan di Langgar Agung setelah Shalat Ashar. Pada umumnya, penabuhan bedug dilakukan oleh Sultan Sepuh Kasepuhan dan keluarganya, namun pada tahun 2022, peran tersebut diambil alih oleh Patih Sepuh Keraton Kasepuhan bersama dengan keluarganya. Pangeran Raja Goemelar Soeryadiningrat, Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, menjelaskan bahwa tradisi Dlugdag sudah berlangsung sejak zaman Sunan Gunung Jati.

Tradisi menyambut ramadhan ini melibatkan 4 hingga 5 orang yang menabuh bedug, termasuk Sultan, Penghulu Keraton Kasepuhan, dan beberapa anggota keluarga keraton lainnya. Setiap pukulan bedug dalam prosesi Dlugdag diisi dengan lantunan dzikir dan shalawat. Misalnya, pukulan pertama membaca “Lailahailallah Muhammadarrasulullah” dua kali, pukulan kedua membaca “Allah” tujuh kali, dan pukulan ketiga membaca “La Haula Wala Quwwata Illa Billahil Aliyil Adzim”. Tradisi ini tidak hanya sebagai penanda awal Ramadan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan warisan leluhur.

Keunikan Tradisi Menyambut Ramadhan Cirebon

tradisi menyambut ramadhan
Source By Cirebon Bribin

Selama berabad-abad tradisi menyambut ramadhan dlugdag di Keraton Kasepuhan Cirebon telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan warisan leluhur yang diwarisi secara turun-temurun. Sampai saat ini, warisan tersebut tetap terpelihara dengan baik dan terus dijalankan sebagai bagian dari rangkaian persiapan menyambut bulan suci Ramadan. Prosesi memukul atau menabuh bedug dalam tradisi dlugdag ini tidaklah dilakukan dengan sembarangan. Setiap ketukan bedug disertai dengan bacaan dzikir dan doa-doa yang khusyuk. Filosofi di balik tabuhan bedug yang disertai dengan dzikir adalah pengingat akan ketergantungan kita kepada Allah SWT. Sebagai umat Muslim, kita menyadari bahwa menjalankan puasa dan ibadah lainnya hanya mungkin terwujud dengan pertolongan serta ridha-Nya.

Mengenal Budaya Cirebon Bersama Naba Rent Car

Mengenal Budaya Cirebon bersama Naba Rent Car adalah sebuah pengalaman yang mendalam dan berkesan. Naba Rent Car tidak hanya menyediakan layanan transportasi yang handal, tetapi juga berperan sebagai pemandu wisata yang mengajak para pelanggannya untuk menjelajahi kekayaan budaya Cirebon. Dari Keraton Kasepuhan hingga kompleks makam Sunan Gunung Jati, setiap destinasi didampingi oleh pengetahuan yang mendalam tentang sejarah, tradisi, dan seni yang memperkaya warisan budaya Cirebon. Melalui rental mobil Cirebon bersama Naba Rent Car, para wisatawan dapat memahami dengan lebih baik keunikan dan keindahan budaya yang dimiliki oleh kota Cirebon, menciptakan kenangan tak terlupakan dalam perjalanan mereka.

Selain itu Anda juga bisa menikmati perjalanan wisata religi ke makam Sunan Gunung Jati Cirebon bersama kami adalah sebuah pengalaman yang mendalam dan berarti. Kami, sebagai penyedia layanan wisata, mengundang Anda untuk menjelajahi keagungan sejarah dan spiritualitas di tempat yang penuh makna ini. Dalam perjalanan ini, Anda akan dibimbing oleh pemandu yang ahli dan berpengetahuan luas tentang kehidupan dan ajaran Sunan Gunung Jati serta tradisi-tradisi keagamaan yang berkembang di sekitarnya. Nikmati momen kedamaian dan refleksi di tempat suci ini sambil memperdalam pemahaman Anda tentang nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal yang terpelihara dengan baik. Bersama kami, Anda akan membangun kenangan berharga dan pengalaman yang tak terlupakan dalam perjalanan wisata religi ke Sunan Gunung Jati Cirebon.

Call Us

WhatsApp / Call

Follow Us