Tradisi Membuat Kue Cimplo Khas Cirebon

Tradisi ialah suatu kegiatan yang sejak lama telah dilakukan  dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.

Berpredikat sebagai Negara maritim, membuat  Indonesia kaya akan nilai budaya dan tradisi. Tradisi ini lah yang sering dilakukan masyarakat sebagai ritual atau pertanda menyambut suatu hal yang istimewa.Keanekaragaman budaya dan tradisi di Indonesia, melahirkan segudang kuliner yang memiliki ciri khas tersendiri sebagai wajah dari daerah tertentu yang terbentang dari Sabang hingga Merauke.

Sebagai salah satu kota yang memiliki sejarah dan perkembangan peradaban manusia membuat wilayah Cirebon dan sekitarnya memiliki beragam kuliner nikmat dan tradisi unik yang masih terjaga sampai sekarang. Salah satu tradisi yang masih dilakukan masyarakat di wilayah Cirebon dan sekitarnya yang hanya ada saat bulan safar adalah membuat makanan khas yaitu kue “cimplo” untuk sedekah dan dibagikan kepada tetangga dan kerabat dekat.

images (65)Cimplo merupakan makanan dengan bentuk yang hampir sama menyerupai apem dan serabi, makan ini  memiliki bahan dasar  dari campuran tepung beras dan terigu serta tambahan ragi instan untuk mengembangkan adonan kemudian dipanggang dalam cetakan khusus kemudian  dihidangkan dengan gula merah yang dilarutkan dan dicampur parutan kelapa.

Cimplo yang hanya dibuat saat bulan safar memiliki tujuan tertentu yaitu sabagai penolak bala, dalam bahasa Arab “Bala” berarti bencana atau wabah . Keyakinan masyarakat saat itu yang masih menganut animisme dan dinamisme beranggapan bahwa bulan safar merupakan bulan mala petaka, atas dasar paham tersebutlah dibuatnya kue cimplo yang dibagikan kepada sanak saudara sebagai penagkal malapetaka.

Ada satu mitos yang masih dipercayai sampai dengan saat ini, konon pada bulan tersebut Allah menurunkan 1000 penyakit ke bumi khususnya manusia. Karena persitiwa itulah, mungkin masyarakat memaknai Safar dengan bulan “Bala”.

 

Sumber: www.cirebonmedia.com

Image By: Google.com

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Zhyponk Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Zhyponk
Guest
Zhyponk

ada sebagian masyarakat kt yg setiap rabu terakhir bulan shafar melakukan shalat sunnah memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari berbagai malapetaka.hari rabu yg disebutkan ini mereka sebut dgn rebo wekasan.kepercayaan2 tsb hingga kini msh dipercayai & diyakini oleh beberapa masyarakat kita,yg seakan-akan bulan shafar adalah bulan sial/bulan bencana.padahal mitos shafar bulan sial ini sebenarnya sudah dibantah oleh Rasulullah Muhammad saw yg menyatakan bahwa bulan shafar bukanlah bulan sial/bulan datangnya bencana…..dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda “tdk ada penyakit menular yg berlaku tanpa izin Allah,tdk ada buruk sangka pd sesuatu kejadian,tdk ada malang pd burung hantu dan tdk ada… Read more »